Rubik yang Membuat Saya Sulit Tidur

RUBIK, menggoda tetapi membuat putus asa.
Ya, beberapa hari terakhir ini saya disibukkan mempelajari sebuah puzzle yang terdiri dari enam warna pada setiap sisinya dan terbagi menjadi 26 kubus. Ya, bagi yang sering menyambangi Toko Buku, terutama Gramedia, pasti sudah mengenal benda ini, Rubik, atau dikenal juga dengan Rubik’s Cube.
Rasa penasaran saya tidak bisa terhindarkan mengingat pada seluruh Toko Buku yang saya sambangi, buku-buku tentang Rubik ini selalu menjadi pajangan di rak paling depan, dan di beberapa toko menjadi best seller mengalahkan berbagai buku terkenal lainnya. Menjadi pertanyaan besar bagi saya, bagaimana hebatnya sebuah benda kecil ini bisa merasuki banyak orang mulai dari kecil hingga dewasa, padahal harga untuk Rubik yang asli juga tidak bisa dibilang murah. Karena itu, saya beli salah satu buku Rubik di antara puluhan buku tentang Rubik yang dipajang di Rak.
Ingatan saya kembali ke masa lalu saya saat masih kecil, dekade 80an, permainan Rubik ini sudah sangat terkenal. Persis seperti sekarang, permainan ini juga sudah mewabah menjadi permainan nasional. Di banyak tempat, orang bermain Rubik. Namun karena kesulitan dalam pemecahannya, banyak orang kemudian mulai meninggalkannya hingga permainan ini menurun di akhir tahun 1900an.
Menurut Adi Wicaksono (dikenal sebagai peringkat dua dunia pada kompetisi Rubik internasional dalam cabang “menyelesaikan Rubik dengan mata tertutup sebanyak-banyaknya”- World Record #2 Multiple Blindfolded in 1 Hour pada Rubik’s Cube Indonesian Open 2009), Rubik ditemukan pada tahun 1974 oleh Profesor Erno Rubik, seorang arsitek dan pemahat Hungaria. Setelah sukses di negaranya sendiri, Rubik ini kemudian menyebar ke seluruh dunia yang menyebabkan penemunya menjadi salah satu orang terkaya dari negara komunis saat itu.
Menurut saya, ini sebuah prestasi yang luar biasa besar. Mungkin Profesor Erno sendiri tidak menyadari, betapa potensi benda yang diciptakannya mampu menyihir dunia untuk ikut bermain dan berpusing-pusing ria dalam sebuah permainan yang menyita pikiran dan waktu ini.
Hal ini yang terkadang tidak kita sadari, betapa sesungguhnya banyak kebutuhan masyarakat yang terpendam bisa kita jawab dengan apa yang kita ciptakan. Dalam kasus Rubik, masyarakat membutuhkan tantangan, hiburan, sekaligus mengasah otak, dan Rubik menjawab semua kebutuhan tersebut. Maka bertemunya kebutuhan dengan produk yang sesuai membuat Rubik meledak menjadi fenomena yang mencengangkan. Tidak hanya di negara asalnya, tetapi sudah merambah menjadi fenomena massal di seluruh dunia.
Ditambah lagi dengan munculnya kompetisi menyelesaikan permainan Rubik di masing-masing negara, maka kemunculan Rubik dan pergerakannya sudah tidak bisa dibendung lagi. Pembicaraan orang tentang permainan pada dekade 1980-1990 tidak bisa dilepaskan dari Rubik. Rubik mendapatkan penghargaan di berbagai negara sebagai salah satu permainan populer dan menarik.
Namun demikian, Rubik hadir bukannya tanpa kelemahan. Kelemahannya justru terletak pada tantangan yang dihadirkannya, yaitu menyelesaikan permainan itu sendiri. Dengan banyaknya kubus dan sisi warna yang ada, menyelesaikan satu buah permainan Kubik mempunyai jutaan alternatif penyelesaian yang akhirnya membuat banyak orang menjadi putus asa. Putus asa karena begitu sulitnya menyelesaikan permainan ini, menyita banyak waktu, dan tidak tahu harus bertanya kepada siapa.
Bukan perkara mudah untuk sekedar bertanya bagaimana menyelesaikan Rubik ini. Apalagi, informasi tentang hal itu masih begitu sulit sehingga lama kelamaan, Rubik menjadi onggokan permainan yang hanya menjadi pajangan. Orang tahu bahwa Rubik membutuhkan tantangan, tetapi tantangan itu terlalu tinggi untuk dicapai sehingga orang melupakannya dengan berbagai pekerjaan lain yang harus diselesaikan.
Permainan Rubik hampir menjadi sejarah yang terlupakan. Tetapi dipahami bahwa banyak orang kesulitan menyelesaikan permainan Rubik lebih karena tidak ada panduan yang memadai bagaimana orang belajar Rubik secara lebih sistematis. Dengan posisi warna dan kubus yang bisa dihitung secara matematis, mestinya dengan mengikuti panduan dan mempraktekkannya terus menerus, orang akan bisa mengikuti bagaimana memecahkan Rubik dengan segala kesulitan yang ada.
Di sinilah Profesor Erno perlu berterima kasih dengan perkembangan internet yang begitu pesat di awal tahun 2000an. Informasi tentang Rubik yang tadinya hanya parsial terdapat di komunitas-komunitas kecil di berbagai bagian dunia mulai bisa diakses oleh komunitas lain di belahan dunia yang berbeda.
Dengan adanya berbagai tutorial bagaimana menyelesaikan permainan ini, Rubik seperti mendapatkan darah segar untuk bangkit kembali dari penantiannya yang panjang. Mulailah kembali muncul komunitas-komunitas kecil pecinta Rubik yang menghidupkan kembali ruh permainan ini setelah sekian lama mati suri.
Mereka mulai lagi menghidupkan gairah orang-orang untuk mempelajari Rubik, meyakinkan mereka bahwa permainan Rubik sekarang ini sudah bisa diselesaikan. Bukankah bendanya sama seperti dahulu? Ya, memang sama, tetapi sekarang ini telah banyak beredar informasi tentang bagaimana belajar dan memecahkan puzzle ini. Internet telah membuat informasi dari satu negara ke negara lain semakin mudah didapatkan, tidak terkecuali informasi tentang bagaimana menyelesaikan permainan Rubik ini.
Kelahiran Youtube di awal 2005 semakin memudahkan orang untuk belajar Rubik. Tidak hanya dari tulisan atau gambar, tetapi melihat secara langsung melalui video bagaimana orang mampu menyelesaikan permainan ini dengan baik.
Kehadiran berbagai informasi tersebut, ditunjang dengan menjamurnya situs web yang terkait dengan cara-cara menyelesaikan Rubik, membuat permainan ini hidup kembali. Maka dengan cepat, berbagai komunitas Rubik di banyak negara, muncul kembali menghidupkan permainan ini, tidak terkecuali di Indonesia.
Indonesia tidak ketinggalan ikut meramaikan komunitas Rubik ini. Maka terbentuklah berbagai komunitas Rubik yang didirikan oleh para pecinta Puzzle ini. Dan puncaknya tentu saja pada tahun 2009 di mana diadakan kompetisi internasional Rubik’s Cube Indonesian Open 2009 yang membuat permainan asah otak ini menjadi fenomenal.
Saya bilang fenomenal karena ternyata kebangkitan Rubik tidak sekedar membangkitkan kembali penjualan Rubik yang sempat meredup, tetapi juga melahirkan berbagai produk turunan yang tidak kalah hebohnya. Yang paling utama tentu saja adalah buku-buku panduan bagaimana tips dan trik menyelesaikan Rubik. Di berbagai toko buku, pengamatan saya buku-buku tentang Rubik ini selalu laris dan dipajang di rak-rak paling depan.
Menariknya, para pelaku permainan rubik ini datang dari berbagai kalangan usia, mulai SD hingga Dewasa. Anak-anak dan remaja bermain karena faktor kesenangan dan “having fun” dengan permainan ini, sambil memperlancar kecepatan masing-masing dalam menyelesaikan, sementara orang dewasa sangat mungkin bernostalgia dan segera memecahkan keinginan terpendam yang dulu pernah dirasakan dengan betapa sulitnya memecahkan permainan ini.
Saking hebohnya, beberapa guru dan orang tua mengeluhkan bahwa anak didik mereka sekarang ini lebih senang belajar Rubik daripada memperhatikan pelajaran atau belajar di rumah. Ke manapun pergi, benda kubus ini tidak boleh ketinggalan.
Dalam pandangan saya, fenomena Rubik ini bisa memberikan beberapa pelajaran menarik yang bisa kita aplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Pertama, jika kita bekerja di suatu bidang, bidang apapun itu, cobalah untuk selalu berpikir membuat berbagai karya kreatif sesuai dengan bidang kita. Profesor Erno adalah arsitek yang sekaligus pemahat yang mengerti benar tentang bidang dan ukuran. Dengan keahlian dan keunikan yang dimilikinya, ia menciptakan Rubik yang begitu fenomenal. Karena bagaimanapun, masing-masing kita mempunyai keunikan yang dengan sedikit kreativitas, bisa menghasilkan karya yang bermanfaat bagi orang lain.
Kedua, agar produk atau jasa kita cepat dikenal masyarakat, kita perlu menciptakan situasi agar produk atau jasa kita menjadi pembicaraan banyak orang. Dengan menjadi pembicaraan bagi banyak orang, kita mendapatkan iklan gratis, bahkan dengan lebih meyakinkan.
Ketiga, orang mau membicarakan produk atau jasa kita jika mereka merasakan manfaat yang nyata. Rubik memberikan kesenangan dan hiburan, sekaligus refreshing dan olah raga otak bagi yang memainkannya. Karena itulah, dengan senang hati masing-masing orang akan bercerita tentang berbagai hal karena mereka merasakan berbagai manfaat ini.
Keempat, bangun komunitas yang terkait dengan produk atau jasa kita. Mereka adalah salah satu garda depan yang membawa berbagai informasi tentang produk atau jasa. Dengan membangun komunitas, kita akan lebih mudah menyampaikan informasi kepada masyarakat secara lebih luas.
Kelima, jangan pernah remehkan internet. Internet menjadikan informasi jauh lebih cepat berkembang dan menyebar ke mana-mana. Saatnya memanfaatkan internet tidak sekedar menjadi jejaring sosial (social networking) untuk berbagai urusan hiburan dan kesenangan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menghasilkan sesuatu yang produktif.
Jadi, siapkah Anda menantang saya di Speed Cube Competition? Hehe….. Tunggu sebulan lagi, saya juga masih dalam tahap belajar menyelesaikan puzzle kubus ini soalnya…
Sukses buat Anda semua, Salam Man Jadda Wajada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar Anda: